Senin, 27 Desember 2010

Math is Fun

Masih jelas terbayang di ingatan, saat-saat menegangkan ketika guru memanggil saya ke depan untuk maju mengerjakan soal. Celakanya lagi guru yang paling sering memanggil saya adalah guru pelajaran Matematika. Pelajaran yang paling saya hindari. Maklum nilai Matematika saya selalu di bawah rata-rata dan entah mengapa mereka berpikir dengan menyuruh saya maju ke depan, tiba-tiba saya bisa menyelesaikan soal secara ajaib. Tentu saja keajaiban itu tidak pernah terjadi :) Biasanya saya hanya mematung di depan. Memandangi sekian banyak huruf x dan y serta simbol lainnya tanpa tahu harus diapakan simbol-simbol itu. Akhirnya sang guru biasanya menyerah setelah melihat saya sampai 15 menit mematung di depan papan tulis :)

Setelah bekerja, I realize that Math is not so bad. Apalagi setelah saya bertemu dengan Bu Susiyanti (mantan guru Math yang sekarang sudah menjadi Kepala Sekolah SMP Lazuardi) yang membuat saya terkagum-kagum mengajarkan pecahan dengan kertas origami. You are the best Bu!

Beberapa tahun belakangan, saya sudah mulai berdamai dengan Matematika setelah saya mulai tahu kegunaannya sedikit demi sedikit dan korelasinya dengan dunia desain.

Rumus matematika yang saya sukai yang pertama adalah perbandingan angka pada deret Fibbonacci (1,2(1+1),3(1+2),5 (2 +3),8 (3+5),11(5+8), dst... Fibbonacci membuat satu deret angka yang perbandingannya mendekati 1.168... atau Phi. Jika kita membuat komposisi desain dengan perbandingan angka-angka tersebut maka proporsi desain kita akan terlihat indah. Coba saja kita mengambar satu benda yang diletakkan pada proporsi 2 :3, pasti akan lebih menarik daripada menggambarnya di posisi yang simetris.

Yang kedua adalah kegunaan Trigonometri. Soal-soal trigonometri yang saya tahu dulu di SMA hanya menggunakan visualisasi segitiga sehingga kurang menarik. Setelah iseng browsing di salah satu website, ada satu soal matematika dimana kita bisa mengukur ketinggian atap  Sidney Opera House dari garis laut. Lalu saya berpikir... Wah, for the first time of my life, saya jadi mengerti maksud rumus ini. Rumus ini juga bisa dipakai untuk menentukan sudut kemiringan atap sehingga jika kita membuat desain yang "nyeleneh" dengan kemiringan sudut atap yang ekstrim, kita dapat mengukurnya dengan akurat dan dapat mempertanggung jawabkannya secara struktural. Salah satu bangunan yang bisa dijadikan studi kasus selain Sidney Opera House adalah Staatsgalerie Stuttgart karya James Stirling. James Stirling membuat galerie yang dindingnya terbuat dari kaca dengan kemiringan yang bervariasi, menciptakan sebuah gelombang yang indah.

Saya sampai pada suatu kesimpulan bahwa semua cabang ilmu pengetahuan sebenarnya sama-sama menarik untuk dipelajari. Dan seperti yang pernah Bapak Munif Chatib (Praktisi Multiple Intelligences dalam pendidikan) katakan, tidak ada yang namanya 'kasta bidang studi'.

Menurut saya cabang ilmu yang satu dengan yang lainnya saling mendukung. Hanya saja kadang kita tidak tahu aplikasinya dan hanya belajar dengan satu metode yaitu mendengarkan 'ceramah'. Tugas kita sebagai orangtua adalah menemukan korelasi antara pelajaran sekolah dan aplikasinya di lapangan kemudian menyampaikannya ke anak sesuai gaya elajar yang dimilikinya. Ini akan memudahkan anak kita untuk menangkap materi pelajaran dan menjadikannya manusia yang mencintai ilmu.

Andai saya tahu Matematika sedemikian menyenangkan saya pasti tidak akan membencinya :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar