Kapan terakhir kali kita merasa benar-benar bebas berimajinasi? Benar-benar diberi kebebasan untuk mengekspresikan imajinasi tanpa batas tanpa takut dikatakan bodoh?
Sebagian besar mungkin ada yang menjawab ketika masa taman kanak-kanak atau ketika SD. Bagus kalau ada yang menjawab SMP atau SMA. I tell you something about my experience in the past....
PILIH JURUSAN
Pilih jurusan apa ya? Ah, arsitektur saja. Masih ada seni-seninya.
Konsultasi ke bimbel - “Kamu Fisika dan Matematikanya bagus nggak?” tanya konsultan. “Enggak”, jawabku dengan polosnya.
Diam beberapa saat....
“Ya coba pertimbangkan jurusan lain”
*&^?:!@##$#.... Eng-ing-eng... Hmmm... memang kalau nggak jago matematika nggak bisa masuk arsitektur ya? Kayaknya dulu Papa gambar-gambar aja deh. Ah cuek sajalah, pilih jurusan arsitektur
UMPTN
...................................
Matematika – Fisika –Kimia. Oh my God... susah banget ya nih soal-soal!
PENGUMUMAN UMPTN
Alhamdulillah lolos.... Asyik...melanglang buana ke Surabaya!
KAMPUS ARSITEKTUR, PELAJARAN ESTETIKA RUPA
“Coba buat kubus yang digambar dengan berbagai keadaan (misalnya gambar kubus yang terpukul, terbolongi, terpelintir, dan sebagainya). Gunakan imajinasi kalian”, ucap dosen Estetika Rupa dengan bersemangat. Oalah... Ini sih malah nggak ada nyangkut-nyangkutnya sama Matematika dan Fisika. Tapi bingung juga mau buat apa.
Dalam 5 menit pertama kami hanya tertegun dan memandangi kertas kosong, berusaha mencerna apa yang diinginkan dosen. Menit berikutnya setelah lirik kanan dan kiri, kami mulai menyadari keasyikannya. Ada yang nyeletuk “ Seperti anak TK lagi ya?”. Meskipun kami merasa asyik, namun dari sekian banyak mahasiswa yang ada, hanya ada 2-5 orang yang dapat menghasilkan 20 bentuk. Jadi berpikir.....kenapa demikian sulitnya menciptakan bentuk-bentuk yang tidak biasa dan imajinatif? Senang sih menggambar... tapi jangan-jangan salah jurusan. Eng-ing-eng....
MALAM INI, SETELAH BACA BUKU DANIELD GOLDMAN
Habis baca buku, tiba-tiba flashback ke jaman kuliah dulu.
Pantas saja ya, kalau kita sulit berimajinasi. Ternyata dunia pendidikanjaman kita, memang mengekang imajinasi untuk berkembang. Di masa kanak-kanak, kita masih boleh belajar sambil bernyanyi dan berlari-larian. Ketika SD sudah harus belajar dengan duduk diam.
Meskipun toh akhirnya berkuliah di jurusan arsitektur, perkembangan imajinasi sudah ditinggalkan sejak jaman SD. Lingkungan membentuk kita bahwa yang namanya belajar adalah harus serius, tidak boleh bertanya yang aneh-aneh, terlalu sering dievaluasi soal-soal dengan pertanyaan tertutup. Sehingga- no-wonder- ketika diminta untuk mengeluarkan ide pas kuliah susahnya bukan main.
Berbagi sedikit nih. Danield Goldman dalam bukunya The Creative Spirit mendeskripsikan beberapa pembunuh kreativitas pada anak :
1. Pengawasan yang terlalu ketat sehingga anak merasa diawasi terus-terusan
2. Evaluasi – membuat anak khawatir tentang bagaimana orang lain menilai apa yang mereka kerjakan
3. Pemberian hadiah yang terlalu berlebihan
4. Kompetisi yang menempatkan anak dalam pertarungan menang-kalah yang terlalu sengit
5. Kontrol berlebihan – mengatakan kepada anak secara terperinci tentang cara melakukan segala sesuatu
6. Membatasi pilihan
7. Tekanan – menetapkan harapan besar pada kinerja anak (ilustrasinya persis seperti lagunya Alanis Morissete yang judulnya Perfect)
Ini katanya Daniel Goldman lho...
Apakah kreativitas dan imajinasi kita masih bisa dikembangkan? Aku rasa masih bisa. Tapi butuh kerja ekstra. Nasi sudah menjadi bubur, yang penting dibuat jadi bubur ayam yang enak
Untuk anak-anak kita? Dibuat dulu bumbu racikan dimana imajinasi anak dapat berkembang tanpa batas.
“For imagination, the sky is the limit”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar