Selasa, 21 Desember 2010

Sudahkah Kita Mendengar?



Be a good girl...
You got to try a little harder...
This wasn’t good enough...
To make us... proud!”
-Alanis Morissete-
...............................................
“ Bu, tidak bisa!”, suara itu kembali terdengar. Kupalingkan wajahku ke salah seorang murid kelas yang melihat dengan tatapan putus asa. Kulihat karyanya yang baru 20% tersentuh. Aku tersenyum menyemangati dan mengatakan ,” kamu pasti bisa, Ibu tahu kamu mampu”. Sambil melihatku, masih dengan tatapan putus asa, Dina kemudian mengambil kembali karya kolasenya dan melanjutkannya dengan ogah-ogahan. Hmm.. aku ternyata belum berhasil menyemangatinya.
........................................
Kulirik Dina. Ia sama sekali tidak menaruh perhatian dengan materi yang kujelaskan. Sekali lagi kedekati dia ketika semua murid sudah mulai mengerjakan tugas kesenian. Dina sibuk mencoret-coret kertasnya. Dengan hati-hati kutegur, “Dina sudah mulai membuat tugasnya?”. Dina hanya menggeleng pelan. “Ada kesulitan apa?”, aku berusaha mencari tahu. “Aku nggak bisa Bu....!” Kali ini dia bicara dengan nada lebih tegas. Dan kembali kuulangi kata-kata itu. “Dina, Ibu tahu Dina berbakat. Ibu yakin Dina bisa. Dicoba dulu ya?”. Dina tidak menjawab. “Bu....bagaimana cara membuat ini?”, tiba-tiba salah seorang murid mengalihkan perhatianku. Setengah jam kemudian. “Baik, waktunya sudah habis. Silahkan dikumpulkan di depan kolasenya”. Murid-murid mulai mengumpulkan karyanya satu persatu. Setelah aku membereskan karya mereka perhatianku tertuju ke sebuah karya yang hanya selesai 30%. Dina kembali tidak menyelesaikan tugasnya. Ah, aku kembali gagal memotivasinya. Aku yakin dia sebetulnya punya bakat seni yang bagus.
..........................................
 Materi baru. Kembali saatnya melakukan teknik menggulung kertas (paper quilling). Dina melihat kertas-kertas di depannya dengan tatapan kosong. Kuhampiri dia seraya berkata, “Dina belum mulai mengerjakan?” Dina terdiam. Lalu tiba-tiba aku ingat salah satu teknik konseling yang baru beberapa minggu lalu kudapat. Kucoba mempraktekkan. “Dina sedang tidak ingin membuat paper quilling?”, tanyaku. “Kenapa sih, kita harus buat ini? Seperti anak SD saja!”, jawabnya. Masih tidak kehabisan akal aku bertanya kembali, ”Dina tidak suka membuat paper quilling karena nggak ada gunanya buat Dina?”. “Bukan begitu Bu....kan banyak banget yang dilakukan. Motong dulu lah, Gunting kertas kecil-kecil, belum lagi gulungnya. Susah sekali Bu”, jawabnya. “Ooh.. Dina merasa kesulitan? Bagian yang menurut Dina paling sulit yang mana?”, tanyaku. “Iya susah banget menggulungnya. Aku nggak ngerti Bu, padahal dari tadi aku udah ngeliatin Ibu caranya. Aku nggak mau ah buat project ini!”, jawabnya ketus. “Ok, kalau begitu kita coba sama-sama buat ya? Kalau setelah ini Dina merasa masih nggak mau buat, ya sudah tidak usah dikerjakan. Tapi kita coba sekali dulu sama-sama, setuju?”, tanyaku. Dina diam mempertimbangkan.“Ok”, jawabnya. Kuambil satu kertas dan kuberikan satu kertas untuknya. Kita melakukan step-by-step teknik paper quilling perlahan-lahan. Ketika sampai di teknik menggulung, ternyata Dina salah menggulungnya. Dina lalu berkata “Nah bagian ini Bu. Aku nggak bisa-bisa”. “Oh.. digulung seperti ini lalu di lem”. Kupraktekkan, lalu kuraih tangannya mengikuti gerakan tanganku. “Oh... maksudnya begini. Kalau gini aku bisa Bu”, jawab Dina senang. “Nah..., ternyata mudah kan? Sekarang coba Dina buat sendiri bagian ini”, kataku. Dina mengulangi menggulung kertas dan dia melakukannya dengan sempurna. Untuk pertama kalinya kulihat dia tesenyum.
“Kriiiing !!!!” Bel tanda pelajaran berakhir berbunyi. Senyum Dina seketika hilang dan berganti dengan wajah putus asa. “Yah, Bu. Aku belum selesai. Yang lain sudah, bagaimana ini?”. Aku tersenyum dan menjawab, “Dikerjakan di rumah saja, tapi janji Dina besok kumpulkan, ok?” “Ok Bu, jawab Dina. Kini kembali tersenyum.
Sejak itu aku tidak pernah lagi melihat Dina murung di kelas kesenian. Memang butuh waktu dan kesabaran untuk menemukan kelebihan pada setiap diri anak, tapi aku yakin setiap anak adalah anak yang dianugrahi kecerdasan lahiriah dari Allah. Dan aku sadar kesalahanku. Bahwa memotivasi dengan memuji saja tidaklah cukup. Setiap anak ingin didengar. Dan yang perlu kita lakukan sebagai orangtua atau guru adalah mendengarkan dengan penuh perhatian dan tulus sampai akar permasalahan anak terungkap.
Be a good listener teachers and parents! Selamat menemukan keajaiban-keajaiban dalam diri anak-anak kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar