Mari Menggambar
Kata-kata Illiteracy selama ini hanya kita kenal untuk istilah ‘melek’ huruf. Kampanye dan program kemudian dirancang untuk memberantas kebutahurufan di Indonesia. Tetapi ada satu hal yang orang Indonesia lupakan. Tradisi yang selama ini justru sudah dikuasai dengan baik oleh nenek moyang kita. Tradisi tersebut adalah tradisi membaca bahasa rupa, suatu istilah yang dikembangkan oleh Prof. Primadi Tabrani, Guru Besar Seni Rupa ITB.
Budaya Indonesia adalah budaya bertutur. Nenek moyang kita terbiasa bertutur melalui media-media gambar bukan hanya menulis. Penyampaian cerita melalui penggunaan wayang, pemahatan gambar di relief-relief Borobudur, dan batik.
Illiteracy dan Visual Literacy atau dengan kata lain ‘melek huruf’ dan ‘melek rupa’ menjadi satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Luna Setiati, pakar seni rupa dan gambar anak dari ITB, dalam salah satu sesi Lazuardi Teacher Training mengatakan bahwa di dalam proses belajar mengajar, anak sebaiknya diperkenalkan pada bahasa rupa ‘khas tradisi Indonesia’ sejak dini. Proses visualisasi selama ini dianggap sebagai suatu proses yang terpisah dari pembelajaran. Padahal proses visualisasi dapat merangsang anak untuk mengembangkan kreatifitas dan imajinasi dalam bidang studi apapun. Proses visualisasi dapat kita optimalisasi melalui gambar.
Apakah anak harus menggambar?
Menggambar bukan hanya digunakan pada pelajaran kesenian. Untuk pelajaran lain, menggambar dilakukan untuk melakukan visualisasi terhadap sesuatu yang abstrak. Diagram, bagan, mind map, komik, adalah bagian dari gambar. Seorang anak tidak harus menggambar dengan proporsi yang seimbang, gradasi warna yang bagus, gambar yang tidak keluar garis, dan sebagainya. Menggambar adalah sesederhana melakukan visualisasi ide ke dalam sebuah kertas.
Apakah guru harus menggambar?
Pengertian gambar yang bagus oleh orang kabanyakan di Indonesia adalah gambar yang naturalis, realistis, dan perspektif. Pengertian ini sebetulnya berasal dari budaya Barat. Menurut Prof. Primadi Tabrani, konsep bahasa rupa di Barat adalah NPM (Naturalistic, Perspective, Moment Freeze). Gambar yang berkembang di budaya Barat sangat logis serta memiliki kesan waktu dibekukan. Sedangkan konsep bahasa rupa tradisi Indonesia adalah STP (Space, Time, Plane). Ruang dan waktu tidak dibekukan, tidak ada garis horizontal, dan multi angle. Sehingga konsep guru bahwa menggambar yang bagus adalah gambar yang naturalis dan persis dengan gambar aslinya sebenarnya tidak sesuai dengan konsep bahasa rupa tradisi kita (Konsep bahasa rupa akan saya bahas di tulisan selanjutnya)
Di dalam menggambar, tidak ada gambar yang bagus atau jelek.
Sekali lagi gambar sebenarnya adalah alat visualisasi terhadap materi yang akan disampaikan guru sehingga siswa dapat menangkap gambaran materi yang lebih kongkrit di benak mereka. Jadi jangan takut untuk menggambar karena menggambar akan merangsang kreatifitas dan imajinasi guru dan siswa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar