Masih jelas terbayang di ingatan, saat-saat menegangkan ketika guru memanggil saya ke depan untuk maju mengerjakan soal. Celakanya lagi guru yang paling sering memanggil saya adalah guru pelajaran Matematika. Pelajaran yang paling saya hindari. Maklum nilai Matematika saya selalu di bawah rata-rata dan entah mengapa mereka berpikir dengan menyuruh saya maju ke depan, tiba-tiba saya bisa menyelesaikan soal secara ajaib. Tentu saja keajaiban itu tidak pernah terjadi :) Biasanya saya hanya mematung di depan. Memandangi sekian banyak huruf x dan y serta simbol lainnya tanpa tahu harus diapakan simbol-simbol itu. Akhirnya sang guru biasanya menyerah setelah melihat saya sampai 15 menit mematung di depan papan tulis :)
Setelah bekerja, I realize that Math is not so bad. Apalagi setelah saya bertemu dengan Bu Susiyanti (mantan guru Math yang sekarang sudah menjadi Kepala Sekolah SMP Lazuardi) yang membuat saya terkagum-kagum mengajarkan pecahan dengan kertas origami. You are the best Bu!
Beberapa tahun belakangan, saya sudah mulai berdamai dengan Matematika setelah saya mulai tahu kegunaannya sedikit demi sedikit dan korelasinya dengan dunia desain.
Rumus matematika yang saya sukai yang pertama adalah perbandingan angka pada deret Fibbonacci (1,2(1+1),3(1+2),5 (2 +3),8 (3+5),11(5+8), dst... Fibbonacci membuat satu deret angka yang perbandingannya mendekati 1.168... atau Phi. Jika kita membuat komposisi desain dengan perbandingan angka-angka tersebut maka proporsi desain kita akan terlihat indah. Coba saja kita mengambar satu benda yang diletakkan pada proporsi 2 :3, pasti akan lebih menarik daripada menggambarnya di posisi yang simetris.
Yang kedua adalah kegunaan Trigonometri. Soal-soal trigonometri yang saya tahu dulu di SMA hanya menggunakan visualisasi segitiga sehingga kurang menarik. Setelah iseng browsing di salah satu website, ada satu soal matematika dimana kita bisa mengukur ketinggian atap Sidney Opera House dari garis laut. Lalu saya berpikir... Wah, for the first time of my life, saya jadi mengerti maksud rumus ini. Rumus ini juga bisa dipakai untuk menentukan sudut kemiringan atap sehingga jika kita membuat desain yang "nyeleneh" dengan kemiringan sudut atap yang ekstrim, kita dapat mengukurnya dengan akurat dan dapat mempertanggung jawabkannya secara struktural. Salah satu bangunan yang bisa dijadikan studi kasus selain Sidney Opera House adalah Staatsgalerie Stuttgart karya James Stirling. James Stirling membuat galerie yang dindingnya terbuat dari kaca dengan kemiringan yang bervariasi, menciptakan sebuah gelombang yang indah.
Saya sampai pada suatu kesimpulan bahwa semua cabang ilmu pengetahuan sebenarnya sama-sama menarik untuk dipelajari. Dan seperti yang pernah Bapak Munif Chatib (Praktisi Multiple Intelligences dalam pendidikan) katakan, tidak ada yang namanya 'kasta bidang studi'.
Menurut saya cabang ilmu yang satu dengan yang lainnya saling mendukung. Hanya saja kadang kita tidak tahu aplikasinya dan hanya belajar dengan satu metode yaitu mendengarkan 'ceramah'. Tugas kita sebagai orangtua adalah menemukan korelasi antara pelajaran sekolah dan aplikasinya di lapangan kemudian menyampaikannya ke anak sesuai gaya elajar yang dimilikinya. Ini akan memudahkan anak kita untuk menangkap materi pelajaran dan menjadikannya manusia yang mencintai ilmu.
Andai saya tahu Matematika sedemikian menyenangkan saya pasti tidak akan membencinya :)
Senin, 27 Desember 2010
Selasa, 21 Desember 2010
Pembunuh Kreativitas
Kapan terakhir kali kita merasa benar-benar bebas berimajinasi? Benar-benar diberi kebebasan untuk mengekspresikan imajinasi tanpa batas tanpa takut dikatakan bodoh?
Sebagian besar mungkin ada yang menjawab ketika masa taman kanak-kanak atau ketika SD. Bagus kalau ada yang menjawab SMP atau SMA. I tell you something about my experience in the past....
PILIH JURUSAN
Pilih jurusan apa ya? Ah, arsitektur saja. Masih ada seni-seninya.
Konsultasi ke bimbel - “Kamu Fisika dan Matematikanya bagus nggak?” tanya konsultan. “Enggak”, jawabku dengan polosnya.
Diam beberapa saat....
“Ya coba pertimbangkan jurusan lain”
*&^?:!@##$#.... Eng-ing-eng... Hmmm... memang kalau nggak jago matematika nggak bisa masuk arsitektur ya? Kayaknya dulu Papa gambar-gambar aja deh. Ah cuek sajalah, pilih jurusan arsitektur
UMPTN
...................................
Matematika – Fisika –Kimia. Oh my God... susah banget ya nih soal-soal!
PENGUMUMAN UMPTN
Alhamdulillah lolos.... Asyik...melanglang buana ke Surabaya!
KAMPUS ARSITEKTUR, PELAJARAN ESTETIKA RUPA
“Coba buat kubus yang digambar dengan berbagai keadaan (misalnya gambar kubus yang terpukul, terbolongi, terpelintir, dan sebagainya). Gunakan imajinasi kalian”, ucap dosen Estetika Rupa dengan bersemangat. Oalah... Ini sih malah nggak ada nyangkut-nyangkutnya sama Matematika dan Fisika. Tapi bingung juga mau buat apa.
Dalam 5 menit pertama kami hanya tertegun dan memandangi kertas kosong, berusaha mencerna apa yang diinginkan dosen. Menit berikutnya setelah lirik kanan dan kiri, kami mulai menyadari keasyikannya. Ada yang nyeletuk “ Seperti anak TK lagi ya?”. Meskipun kami merasa asyik, namun dari sekian banyak mahasiswa yang ada, hanya ada 2-5 orang yang dapat menghasilkan 20 bentuk. Jadi berpikir.....kenapa demikian sulitnya menciptakan bentuk-bentuk yang tidak biasa dan imajinatif? Senang sih menggambar... tapi jangan-jangan salah jurusan. Eng-ing-eng....
MALAM INI, SETELAH BACA BUKU DANIELD GOLDMAN
Habis baca buku, tiba-tiba flashback ke jaman kuliah dulu.
Pantas saja ya, kalau kita sulit berimajinasi. Ternyata dunia pendidikanjaman kita, memang mengekang imajinasi untuk berkembang. Di masa kanak-kanak, kita masih boleh belajar sambil bernyanyi dan berlari-larian. Ketika SD sudah harus belajar dengan duduk diam.
Meskipun toh akhirnya berkuliah di jurusan arsitektur, perkembangan imajinasi sudah ditinggalkan sejak jaman SD. Lingkungan membentuk kita bahwa yang namanya belajar adalah harus serius, tidak boleh bertanya yang aneh-aneh, terlalu sering dievaluasi soal-soal dengan pertanyaan tertutup. Sehingga- no-wonder- ketika diminta untuk mengeluarkan ide pas kuliah susahnya bukan main.
Berbagi sedikit nih. Danield Goldman dalam bukunya The Creative Spirit mendeskripsikan beberapa pembunuh kreativitas pada anak :
1. Pengawasan yang terlalu ketat sehingga anak merasa diawasi terus-terusan
2. Evaluasi – membuat anak khawatir tentang bagaimana orang lain menilai apa yang mereka kerjakan
3. Pemberian hadiah yang terlalu berlebihan
4. Kompetisi yang menempatkan anak dalam pertarungan menang-kalah yang terlalu sengit
5. Kontrol berlebihan – mengatakan kepada anak secara terperinci tentang cara melakukan segala sesuatu
6. Membatasi pilihan
7. Tekanan – menetapkan harapan besar pada kinerja anak (ilustrasinya persis seperti lagunya Alanis Morissete yang judulnya Perfect)
Ini katanya Daniel Goldman lho...
Apakah kreativitas dan imajinasi kita masih bisa dikembangkan? Aku rasa masih bisa. Tapi butuh kerja ekstra. Nasi sudah menjadi bubur, yang penting dibuat jadi bubur ayam yang enak
Untuk anak-anak kita? Dibuat dulu bumbu racikan dimana imajinasi anak dapat berkembang tanpa batas.
“For imagination, the sky is the limit”
Sudahkah Kita Mendengar?
“Be a good girl...
You got to try a little harder...
This wasn’t good enough...
To make us... proud!”
-Alanis Morissete-
...............................................
“ Bu, tidak bisa!”, suara itu kembali terdengar. Kupalingkan wajahku ke salah seorang murid kelas yang melihat dengan tatapan putus asa. Kulihat karyanya yang baru 20% tersentuh. Aku tersenyum menyemangati dan mengatakan ,” kamu pasti bisa, Ibu tahu kamu mampu”. Sambil melihatku, masih dengan tatapan putus asa, Dina kemudian mengambil kembali karya kolasenya dan melanjutkannya dengan ogah-ogahan. Hmm.. aku ternyata belum berhasil menyemangatinya.
........................................
Kulirik Dina. Ia sama sekali tidak menaruh perhatian dengan materi yang kujelaskan. Sekali lagi kedekati dia ketika semua murid sudah mulai mengerjakan tugas kesenian. Dina sibuk mencoret-coret kertasnya. Dengan hati-hati kutegur, “Dina sudah mulai membuat tugasnya?”. Dina hanya menggeleng pelan. “Ada kesulitan apa?”, aku berusaha mencari tahu. “Aku nggak bisa Bu....!” Kali ini dia bicara dengan nada lebih tegas. Dan kembali kuulangi kata-kata itu. “Dina, Ibu tahu Dina berbakat. Ibu yakin Dina bisa. Dicoba dulu ya?”. Dina tidak menjawab. “Bu....bagaimana cara membuat ini?”, tiba-tiba salah seorang murid mengalihkan perhatianku. Setengah jam kemudian. “Baik, waktunya sudah habis. Silahkan dikumpulkan di depan kolasenya”. Murid-murid mulai mengumpulkan karyanya satu persatu. Setelah aku membereskan karya mereka perhatianku tertuju ke sebuah karya yang hanya selesai 30%. Dina kembali tidak menyelesaikan tugasnya. Ah, aku kembali gagal memotivasinya. Aku yakin dia sebetulnya punya bakat seni yang bagus.
..........................................
Materi baru. Kembali saatnya melakukan teknik menggulung kertas (paper quilling). Dina melihat kertas-kertas di depannya dengan tatapan kosong. Kuhampiri dia seraya berkata, “Dina belum mulai mengerjakan?” Dina terdiam. Lalu tiba-tiba aku ingat salah satu teknik konseling yang baru beberapa minggu lalu kudapat. Kucoba mempraktekkan. “Dina sedang tidak ingin membuat paper quilling?”, tanyaku. “Kenapa sih, kita harus buat ini? Seperti anak SD saja!”, jawabnya. Masih tidak kehabisan akal aku bertanya kembali, ”Dina tidak suka membuat paper quilling karena nggak ada gunanya buat Dina?”. “Bukan begitu Bu....kan banyak banget yang dilakukan. Motong dulu lah, Gunting kertas kecil-kecil, belum lagi gulungnya. Susah sekali Bu”, jawabnya. “Ooh.. Dina merasa kesulitan? Bagian yang menurut Dina paling sulit yang mana?”, tanyaku. “Iya susah banget menggulungnya. Aku nggak ngerti Bu, padahal dari tadi aku udah ngeliatin Ibu caranya. Aku nggak mau ah buat project ini!”, jawabnya ketus. “Ok, kalau begitu kita coba sama-sama buat ya? Kalau setelah ini Dina merasa masih nggak mau buat, ya sudah tidak usah dikerjakan. Tapi kita coba sekali dulu sama-sama, setuju?”, tanyaku. Dina diam mempertimbangkan.“Ok”, jawabnya. Kuambil satu kertas dan kuberikan satu kertas untuknya. Kita melakukan step-by-step teknik paper quilling perlahan-lahan. Ketika sampai di teknik menggulung, ternyata Dina salah menggulungnya. Dina lalu berkata “Nah bagian ini Bu. Aku nggak bisa-bisa”. “Oh.. digulung seperti ini lalu di lem”. Kupraktekkan, lalu kuraih tangannya mengikuti gerakan tanganku. “Oh... maksudnya begini. Kalau gini aku bisa Bu”, jawab Dina senang. “Nah..., ternyata mudah kan? Sekarang coba Dina buat sendiri bagian ini”, kataku. Dina mengulangi menggulung kertas dan dia melakukannya dengan sempurna. Untuk pertama kalinya kulihat dia tesenyum.
“Kriiiing !!!!” Bel tanda pelajaran berakhir berbunyi. Senyum Dina seketika hilang dan berganti dengan wajah putus asa. “Yah, Bu. Aku belum selesai. Yang lain sudah, bagaimana ini?”. Aku tersenyum dan menjawab, “Dikerjakan di rumah saja, tapi janji Dina besok kumpulkan, ok?” “Ok Bu, jawab Dina. Kini kembali tersenyum.
Sejak itu aku tidak pernah lagi melihat Dina murung di kelas kesenian. Memang butuh waktu dan kesabaran untuk menemukan kelebihan pada setiap diri anak, tapi aku yakin setiap anak adalah anak yang dianugrahi kecerdasan lahiriah dari Allah. Dan aku sadar kesalahanku. Bahwa memotivasi dengan memuji saja tidaklah cukup. Setiap anak ingin didengar. Dan yang perlu kita lakukan sebagai orangtua atau guru adalah mendengarkan dengan penuh perhatian dan tulus sampai akar permasalahan anak terungkap.
Be a good listener teachers and parents! Selamat menemukan keajaiban-keajaiban dalam diri anak-anak kita.
Bahasa Rupa
Mari Menggambar
Kata-kata Illiteracy selama ini hanya kita kenal untuk istilah ‘melek’ huruf. Kampanye dan program kemudian dirancang untuk memberantas kebutahurufan di Indonesia. Tetapi ada satu hal yang orang Indonesia lupakan. Tradisi yang selama ini justru sudah dikuasai dengan baik oleh nenek moyang kita. Tradisi tersebut adalah tradisi membaca bahasa rupa, suatu istilah yang dikembangkan oleh Prof. Primadi Tabrani, Guru Besar Seni Rupa ITB.
Budaya Indonesia adalah budaya bertutur. Nenek moyang kita terbiasa bertutur melalui media-media gambar bukan hanya menulis. Penyampaian cerita melalui penggunaan wayang, pemahatan gambar di relief-relief Borobudur, dan batik.
Illiteracy dan Visual Literacy atau dengan kata lain ‘melek huruf’ dan ‘melek rupa’ menjadi satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Luna Setiati, pakar seni rupa dan gambar anak dari ITB, dalam salah satu sesi Lazuardi Teacher Training mengatakan bahwa di dalam proses belajar mengajar, anak sebaiknya diperkenalkan pada bahasa rupa ‘khas tradisi Indonesia’ sejak dini. Proses visualisasi selama ini dianggap sebagai suatu proses yang terpisah dari pembelajaran. Padahal proses visualisasi dapat merangsang anak untuk mengembangkan kreatifitas dan imajinasi dalam bidang studi apapun. Proses visualisasi dapat kita optimalisasi melalui gambar.
Apakah anak harus menggambar?
Menggambar bukan hanya digunakan pada pelajaran kesenian. Untuk pelajaran lain, menggambar dilakukan untuk melakukan visualisasi terhadap sesuatu yang abstrak. Diagram, bagan, mind map, komik, adalah bagian dari gambar. Seorang anak tidak harus menggambar dengan proporsi yang seimbang, gradasi warna yang bagus, gambar yang tidak keluar garis, dan sebagainya. Menggambar adalah sesederhana melakukan visualisasi ide ke dalam sebuah kertas.
Apakah guru harus menggambar?
Pengertian gambar yang bagus oleh orang kabanyakan di Indonesia adalah gambar yang naturalis, realistis, dan perspektif. Pengertian ini sebetulnya berasal dari budaya Barat. Menurut Prof. Primadi Tabrani, konsep bahasa rupa di Barat adalah NPM (Naturalistic, Perspective, Moment Freeze). Gambar yang berkembang di budaya Barat sangat logis serta memiliki kesan waktu dibekukan. Sedangkan konsep bahasa rupa tradisi Indonesia adalah STP (Space, Time, Plane). Ruang dan waktu tidak dibekukan, tidak ada garis horizontal, dan multi angle. Sehingga konsep guru bahwa menggambar yang bagus adalah gambar yang naturalis dan persis dengan gambar aslinya sebenarnya tidak sesuai dengan konsep bahasa rupa tradisi kita (Konsep bahasa rupa akan saya bahas di tulisan selanjutnya)
Di dalam menggambar, tidak ada gambar yang bagus atau jelek.
Sekali lagi gambar sebenarnya adalah alat visualisasi terhadap materi yang akan disampaikan guru sehingga siswa dapat menangkap gambaran materi yang lebih kongkrit di benak mereka. Jadi jangan takut untuk menggambar karena menggambar akan merangsang kreatifitas dan imajinasi guru dan siswa.
My Latest Image Editing
Ini desain editing foto terbaru. Terispirasi dari lagunya Phil Collins dan catatan perjalanan teman-teman yang mengkonsultani sebuah sekolah di Jambi.Semoga sinar di mata mereka tidak pernah pupus.
Re-use Kalender
Kali ini kami ingin berbagi untuk memanfaatkan bahan bekas yang dapat dijadikan media mengajar untuk murid, atau putra-putri kita. Bahan yang kami gunakan adalah kalender bekas.
Bagian kalender yang dapat dimanfaatkan :
- Kertas. Kertas yang digunakan untuk kalender biasanya memiliki ketebalan yang cukup bagus untuk dibuat flashcard,kuis, atau mind map. Terutama kalender dengan spesifikasi art karton.
Membuat mind map :
o Minta siswa untuk membawa kalender meja bekas.
o Tanpa memotong halaman-halaman kalender, minta siswa memotong kertas HVS kosong seukuran halaman kalender dan menempelnya.
o Siswa dapat membuat mindmap di setiap halaman kalender, untuk mengingat materi-materi tertentu dalam pelajaran. Lebih seru jika mind map dibuat dengan spidol warna-warni.
o Agar lebih menarik siswa dapat mendisain judul materi seindah yang mereka inginkan.
o Mindmap ini dapat dibawa siswa kemana-mana,praktis dan menarik.
Membuat flashcard :
o Cari gambar-gambar di internet yang akan digunakan untuk membuat flashcard.
o Print dan tempel ke halaman-halaman kalender yang sudah dipotong.Tanpa perlu dilaminating, flashcard sudah mempunyai ketebalan yang cukup baik.
Membuat kuis :
o Potong halaman-halaman kalender meja.
o Tempel kertas HVS seukuran halaman kalender.
o Tuliskan pertanyaan kuis di halaman kalender.
- Gambar. Gambar pada kalender meja biasanya berukuran setengah halaman. Gambar bisa dimanfaatkan untuk ide dalam membuat cerita.
Cerita :
o Minta siswa membawa kalender meja bekas yang memiliki gambar di tiap halamannya.
o Tutup bagian angka-angka pada kalender dengan menggunakan HVS sehingga hanya menyisakan bagian gambar.
o Minta siswa untuk menuliskan satu dua baris cerita tentang gambar disampingnya. Tiap halaman akan memiliki ide cerita yang berbeda-beda
o Minta anak untuk memilih satu gambar dengan ide ceritanya yang akan dikembangkan menjadi satu karangan yang utuh.
o Kalender dapat dibawa pulang ke rumah dan guru dapat memotivasi siswa untuk membuat cerita yang lain.
- Angka. Angka pada kalender dapat dimanfaatkan untuk menjelaskan peristiwa bersejarah.
Hari Bersejarah
o Sediakan beberapa kalender meja bekas
o Bentuk siswa menjadi beberapa kelompok yang terdiri dari 4 orang
o Setiap siswa akan memilih bulan tertentu yang di dalamnya terdapat tanggal merah.
o Siswa diminta mencari keterangan sebanyak-banyaknya tentang tanggal tersebut. Contoh : Isra’ Mi’raj
o Halaman-halaman lain selain bulan yang mereka pilih ditutup semua dengan kertas HVS.
o Keterangan-keterangan yang siswa dapat, ditulis di halaman-halaman yang sudah ditutup dengan HVS. Tulisan boleh dilengkapi dengan gambar, atau berupa mind map.
o Masing-masing kelompok akan mempresentasikan keterangan yang mereka dapat.
- Tulisan. Tulisan juga dapat digunakan untuk mencari keterangan mengenai bulan yang bersangkutan. Beberapa kalender Islam harian ada yang menyertakan terjemahan ayat Al-Qur’an atau kutipan hadits. Tulisan ini dapat digunakan sebagai alat diskusi dan membuat project art.
- Hadist of the Day
o Sediakan satu kalender harian yang berisi tulisan-tulisan hadits.
o Guru dapat memilih satu hadits dan mendiskusikannya bersama siswa
o Project lanjutan : guru dapat meminta siswa untuk membuat gambar ilustrasi /ikon grafis yang menjelaskan hadits tersebut. Gambar siswa dapat dipajang di mading atau di koridor sekolah
- Keterangan Bulan
o Minta siswa untuk membawa kalender meja bekas
o Tutup bagian hari-hari pada kalender dengan kertas HVS dan sisakan tulisan bulannya. Contoh : bulan November.
o Minta siswa membuat mindmap, atau menulis keterangan tentang peristiwa bersejarah apa saja yang terjadi pada bulan tersebut.
Bagi teman-teman yang ingin berbagi menambahkan ide-ide yang lain, atau masukan dari ide yang sudah ada, kami sangat senang untuk mendengarnya.
Selamat memanfaatkan kalender bekas! Reduce, Reuse, Recycle.
Langganan:
Komentar (Atom)



